Rabu, 31 Agustus 2011

Sejarah Masa Praaksara


A. TRADSI SEJARAH MASARAKAT INDONESIA MASA PRAAKSARA
              Kehidupan masyarakat Indonesia sebelum menenal tulisan disebut masa praaksara atau masa prasejarah. Oleh karena belum mengenal tuisan, maka jejak-jejak sejarah yang mereka tinggalkan beuoa benda-benda kebudayaan. Salah satu hal yang bisa dilakukan para ahli untuk mengungkap masa prasejarah adalah denga melakukan penelitian terhaap fosil dan artefak. Fosil adalah sisa-sisa organisme atau makhluk hidup yang telah membantu, sedangkan artefak adalah benda-benda pninggalan hasil kebudayaan seperti gerabah dan bangunan.
1.     Cara Masyarakat Praaksara Mewariskan Masa Lalu
        Lahirnya kebudayaan akibat dari interaksi manusia dengan manusia yang lainnya yang tujuannya mempertahannkan hidup. Hasil budaya berupa sistem, gagasan, tindakan, dan sebuah proses belajar.
        Seseorang harus melalui proses belajar yang sangat panjang untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Proses menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial disebut dengan sosialisasi.
        Cara masyarakat praaksara yang belum mengenal tulisan, pewarisan masa lalu dilakukan dengan cara lisan. Berikut beberapa cara masyarakat praaksara mewariskan kebudayaannya.

a.      Melalui Keluarga
        Masyarakat praaksara lahir dan berkembang di lingkungan sosial yang terdiri dari orang tua dan saudara-saudaranya, sehingga keluarga sangat besar pengaruhnya bagi pembentukan dan perkembangan indiviu. Cara sosialisasi dalam keluarga pada masyarakat praaksara, antara lain :

1.     Adat Istiadat
Adat istiadat merupaan kebiasaan yang dilakukan dalam suatu kelompok. Setiap keluarga memiliki adat istiadat atau kebisaan. Tradisi terebut diwariskan  ke seorang anak melalui proses sosialisasi, tradisi itu diwariskan secara tidak langsung, misalnya sikap dan perilaku.
2.     Cerita Dongeng
Dongeng merupakan cerita fiksi (cerita yang tidak benar-benar terjadi), biasanya tentang kejadian-kejadian pada masa lampau yang dianggap aneh oleh masyarakat setempat. Dongeng jga merupaan salah satu cara untuk mewariskan masa lalu.

b.     Melalui Masyarakat
Masyarakat merupakansekelompok orang yang mendiami suatu tempat, memiliki kesamaan budaya, identitas, dan berinteraksi dalam suatu hubungan sosial yang berstruktur. Setiap masyarakat mewariskan kebudayaannya dengan cara masing-masing, namun semua masyarakat mempuyai ciri dan komponen yang sama. Ciri dan komponen itu adalah sebagai berikut :
1.)   Populasi, yaitu manusia yag hidup bersama dengan karakter genetik dan kependudukan.
2.)   Memiliki kebudayaan, maksudnya berbagai cipta, karsa, dan karya manusia yang berisi beberapa macam sistem nilai, yaitu teknologi, ekonomi, organisasi, ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, dan tata bahasa.
Dalam setiap masyarakat memiliki cara sndiri-sendiri untuk mewariskan masa lalunya baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti melalui hal hal sebagai berikut.

1)     Adat Istiadat
        Setiap masyarakat memiliki adat istiadat yang berbeda pada setiap tempat atau wilayah. Adat istiadat itu harus dipatuhi oleh semua masyarakat yang menempati suatu wilayah tersebut, bagi masyarakat yang melakukan penyimpangan terhadap suatu adat istiadat akan dilakukan penyisihan dari lingkungan masyarakat yang berada di wilayah tersebut.
        Adat istiadat dapat menjadi sarana untuk mewariskan masa lalu kepada generasi penerus, tetapi mengalami berbagai perbahan sesuai perkembangan jaman. Hal ini juga disebabkan karena manusia memiliki akal untuk mengolah apa yang diwariskan oleh generasi terdahulu dan apa yang dibutuhkan oleh generasi berikutnya, tetapi hanya menjadi dasar yang terus dikembangkan dan diperbaharui. Sebagai contoh tradisi gotong royong yang berkembang dalam masyarakat. Gotong royong merupakan tindakan saling membantu atau bekerja sama di antara anggota masyarakat.

2)     Pertunjukan Hiburan
        Seorang ahli sejarah berkebangsaan Belanda, J.L. Brandes meyakini bahwa tradisi wayang telah ada pada masa praaksara. Pertunjukan wayang ditunjukan dengan tujuan mendatangkan roh nenek moyang. Dalam pertunjukan wayang selalu disisipkan petuah-petuah atau petunjuk-petunjuk tentang suatu kehidupan yang sedang dilalui oleh masyarakat. Dalam pertunjukan wayang juga dinyatakan tentang baik buruk kehidupan yang dilali oleh masyarakat.

                    Menurut J.L. Brandes menjelang masuknya pengaruh Hindu-Buddha atau menjelang kehidupan masyarakat Indonesia mengenal tulisan, Indonesia telh memiliki sepuluh unsur pokok kebudayaan asli Indonesia sebagai berikut :
a.)    Bercocok tanam padi di sawah.
b.)   Mengenal prinsip dasar permainan wayang untuk mendatangkan roh nenek moyang.
c.)    Mengenal seni gamelan yang terbuat dari perunggu
d.)   Pandai membatik (tulisan hias).
e.)    Pola susunan masyarakat macapat.
f.)     Telah mengenal alat tukar dalam perdagangan.
g.)    Membuat barang-barang dari logam, terutama perunggu.
h.)   Memiliki kemampuan yang tinggi dalam pelayaran.
i.)      Mengenal pengetahuan astronomi.
j.)      Susuanan masyarakat yang teratur.

3)     Kepercayaan Masyarakat
        Menurut G. Coedes seorang sarjana Perancis, masyarakat Indonesia sebeum mengenal tulisan atau sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha telah memiliki sepuluh unsur pokok peradaban sebagai berikut :

a.)    Memelihara ternak.
b.)   Mengenal keterampilan teknik undagi.
c.)    Mengenal pengetahuan pelayaran di samudra luas.
d.)   Sistem kekerabatan matrilineal.
e.)    Kepercayaan animisme, dinamisme, dan pemujaan roh leluhur.
f.)     Mengenal organisasi pembagian air untuk pertanian
g.)    Kepandaian membuat barang-barang dari tanah liat seperti gerabah atau tembikar.
h.)   Kepecayaan kepada penguasa gunung.
i.)      Cara pemakaman pada dolmen atau kubur batu.
j.)      Mitologi pertentangan antara dua unsur kosmos.
        Kepercayaan yang dianut oleh masyarakat pada suatu wilayah dapat menjadi salah satu cara masyarakat praaksara untuk mewariskan masa lalunya. Pemujaan terhadap roh leluhur menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia karena melalui pemujaan itu masyarakat akan mengenang dan mengingat apa yang pernah dilakukan oleh para leluhurnya di masa lalu, yang kemudian diwarisi.
B. TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA PADA MASA PRAAKSARA
                    Fungsi sejarah salah satunya adalah untuk memberkan identitas kepada masyarakatnya. Kata tradisi menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah segala sesuatu seperti adat istiadat, kepercayaan, kebiasaan, dan ajaran yang turun temurun dari nenek moyang. Tradisi berfungsi sebagai pedoman yang memberi arah kehidupan warga masyarakat.
                    Beberapa unsur-unsur kebudayaan masyarakat mengenal tulisan yang merupakan bagian dari tradisi sejarah, antara lain sebagai berikut :
a.      Sistem Religi
        Sistem religi dapat tumbuh dan berkembang karena setiap manusia membutuhkan keyakinan yang dapat timbul dari beberapa sebab, misalnya ketika manusia mulai mencari cara untuk melakukan komunikasi atau hubungan dengan kekuatan gaib.
Dalam pelaksanaan sistem religi, masyarakat bersejarah menggunakan 5 komponen, yaitu :
1)     Emosi keagamaan, emosi merupakan penggerak keinginan manusia untuk melakukan sesatu, terutama untuk hal yang dianggap sesuai dengan keyakinan dan kebenaran.
2)     Sistem keyakinan, keyakinan manusia merupakan nilai-nilai dan konsep tentang sifat-sifat Tuhan, alam gaib, kekuatan-kekuatan yang melebihi manusia.
3)     Sistem ritus dan upacara, sistem ini merupakan tata kelakuan atau sejumlah tahapan yang harus dilakukan untuk mengadakan hubungan dengan yang diyakini oleh manusia.
4)     Umat agama, yang dimaksud adalah sekelompok orang yang meyakini dan melaksanakan ajaran-ajaran agamanya.
5)     Peralatan ritus dan upacara, berupa alat-alat utama yang dipakai pada ritus dan upaara serta menjadi symbol dari konsep religi yang dilambangkannya.


b.     Sistem Kemasyarakatan
Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia telah hidup dalam kelompok-kelompok dengan jumlah yang terbatas. Proses perubahan tata kehidupan terus berlangsung secara perlahan lahan. Pada masa selanjutnya, secara perlahan tumbuh ikatan-ikatan sosial yang berlangsung antar individu, antar keluarga, dan atar kelompok.
Di Indonesia pada masa bercocok tanam telah dikenal sistem kemasyarakatan. Manusia purba pada masa itu telah menyadari bahwa mereka tidak dapat hidup sendirian dan memerlukan bantuan orang lain untuk membuka lahan-lahan pertanian. Mereka membagi tugas dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. Sejak saat itulah sistem gotong royong mulai berkembang di Indonesia.
c.      Pertanian
Sejak jaman neolitikum sistem persawahan mulai dikenal bangsa Indonesia, yaitu sejak manusia mulai hidup menetap secara permanent (sedentar). Kehidupan gotong royong teraktualisasikan dalam sistem persawahan ini. Semangat gotong royong dalam sistem persawahan terlihat dalam tata pengaturan air (irigasi). Kemampuan bersawah pada masa perundagian semakin berkembang. Hal ini mengingat sudah adanya spesialisasi pekerjaan dalam masyarakat.
d.     Pelayaran
Kemampan berlayar nenek moyang Bangsa Indonesia dapat diketahui dari latar belakang kedatangan nenek moyang bangsa Indonesia dari daratan Asia. Nenek moyang bangsa Indonesia harus menggunakan perahu untuk sampai ke Indonesia. Kemampuan berlayar ini semakin lama semakin berkembang. Kondisi wilayah yang berpulau pulau mengharuskan orang menggunakan perahu untuk berlayar dari satu pulau ke pulau lain. Salah satu jenis perahu yang digunakan masyarakat Indonesia adalah perahu bercadik.

e.     Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Masyarakat Indonesia sebelum mendapatkan pengaruh Hindu-Buddha, telah mengenal Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Masyarakat pada masa itu telah memanfaatkan angin musim sebagai tenaga penggerak dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan seperti bercocok tanam, memanen menangkap ikan dan berlayar.


f.       Sistem Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi dalm bentuk perlambangan bunyi yang mempunyai makna. Setiap bangsa melahirkan bahasanya masing-masing. Pada zaman kerajaan Sriwijaya bahasa melayu mengalami perkembangan yang sangat pesat. Setelah mendapat pengaruh dari bahasa sansekerta, bahasa melayu menjadi bahasa resmi atau bahasa prasasti kerajaan Sriwijaya. Perkembangan selanjutnya bahasa melayu berhasil menjadi bahasa pergaulan dalam perdagangan atau menjadi bahasa perantara di seluruh wilayah kepulauan Nusantara.

g.     Organisasi Sosial
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, oleh karena itu, manusia hidup berkelompok. Hal ini dikenal dengan suku bangsa. Terbentuknya suku bangsa merupakan cerminan prilaku manusia yang terorganisasi secara sosial. Dikatakan terorganisasi karena di dalam kelompok-kelompok ini ada aturan-aturan yang mengikat seluruh anggotanya. Bentuk aturan ini belum tertulis, tetapi hak kewajiban dan hukuman telah di terapkan.
Kesatuan aturan-aturan yang digunakan untuk mengorganisasi anggotanya adalah sebagai berikut.
1)     Kesatuan Keturunan (genealogis).
Sebuah suku bangsa dapat terbentuk karena memiliki keturunan yang sama atau ikatan darah, antara lain keluarga inti, keluarga besar, dan kelompok keturunan.
2)     Kesatuan Kedaerahan
Kesatuan kedaerahan terbentuk karena merasa ada ikatan yang sama akibat tinggal di satu daerah yang sama.


3)     Kesatuan Sosial Religius
Kesatuan masyarakat ini terbentuk karena adanya kesamaan ikatan suci keagamaan oleh karena merasa memiliki kepercayaan yang sama, mereka membentuk sebuah masyarakat


4)     Kesatuan Sosial yang Bersifat Paguyuban
Paguyuban terbentuk karena adanya ikatan kesetiakawanan sosial yang kelompok dan bersifat kekeluargaan. Hal ini terjadi karena adanya ikatan emosional yang berupa kekerabatan, kedaerahan, atau kepentingan bersama.

h.     Sistem Ekonomi
Masyarakat Indonesia pada masa praaksara telah mengenal hubungan perdagangan dengan daerah-daerah lain yang berbeda. Hubungan perdagangan yang mereka kenal pada saat itu adalah sistem barter, yaitu tukar menukar barang yang besar kecilnya nilai penggantinya ditentukan bersama.

i.       Kesenian
Sebelum mengenal tulisan, masyarakat Indonesia telah mengenal sistem kesenian. Ekspresi seni itu dituangkan dalam bentuk seni lukis dengan media dinding-dinding gua atau pada permukaan batu. Kegiatan seni lukisan di dinding gua yang sudah dilakukan manusia sejak masa berburu, buktinya dengan temuan-temuan di Perancis, Afrika, India, Thailand, dan Australia.
Kegiatan seni lukis di Indonesia deperkirakan sudah ada sejak masa berburu, bukti tersebut sudah ditemukan di Sulawesi Selatan, Maluku, dan Papua. Di Sulawesi Selatan ditemukan lkisan dinding gua yang bentuknya berupa lkisan cap-cap tangan dengan latar belakang cat merah, dan seekor babi rusa. Di Maluku ditemukan lukisan di dinding gua dan batu karang berwarna merah dan putih yang wujudnya berupa cap tangan, kadal, manusia membawa perisai warna merah, lukisan burung, dan paruhnya berwarna putih. Di Papua ditemukan lukisan di dinding gua dan karang.Seni patung, baik patung dari batu maupun perunggu bentuknya berupa figuran manusia dan binatang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar